Zendaya Tampil Memukau dengan Gaun Schiaparelli yang Baru Debut di Paris

Zendaya

Zendaya Tampil Memukau dengan Gaun Schiaparelli yang Baru Debut di Paris Zendaya kembali mencuri perhatian lewat pilihan busana yang dikenakannya di karpet merah. Aktris berusia 29 tahun itu tampil dengan gaun haute couture Schiaparelli saat menghadiri pemutaran perdana dunia film The Odyssey di Odeon Luxe Leicester Square, London, Inggris, pada 6 Juli 2026.

Penampilannya menjadi sorotan karena gaun tersebut baru beberapa jam sebelumnya diperagakan dalam pertunjukan Schiaparelli Haute Couture Fall Winter 2026/2027 di Paris, Prancis. Busana itu bahkan menjadi tampilan penutup dalam pertunjukan koleksi terbaru rumah mode tersebut.

Zendaya tidak hadir secara langsung dalam pertunjukan Schiaparelli di Paris. Namun, penata gayanya, Law Roach, duduk di barisan depan dan telah menyiapkan proses pengiriman gaun dari Paris menuju London. Dalam waktu singkat, busana yang baru meninggalkan panggung peragaan itu sudah dikenakan Zendaya di salah satu acara film terbesar tahun ini.

Pemilihan busana tersebut juga berkaitan erat dengan karakter Zendaya dalam The Odyssey. Ia memerankan Athena, dewi kebijaksanaan dan perang dalam mitologi Yunani. Bentuk gaun menyerupai pahatan tubuh dari marmer membuat penampilannya terlihat selaras dengan tema film garapan Christopher Nolan tersebut.

Gaun Penutup Schiaparelli Langsung Berpindah ke Karpet Merah

Gaun yang dikenakan Zendaya merupakan tampilan terakhir dari koleksi Schiaparelli Haute Couture Fall Winter 2026/2027. Koleksi yang dirancang oleh Direktur Kreatif Daniel Roseberry itu diperkenalkan di Paris pada hari yang sama dengan pemutaran perdana The Odyssey di London.

Vogue mencatat bahwa gaun tersebut baru berjalan di panggung peragaan beberapa jam sebelum Zendaya memakainya. Kecepatan perpindahan busana dari pertunjukan haute couture menuju karpet merah membuat penampilan ini menjadi salah satu peristiwa mode paling diperbincangkan selama pekan couture Paris.

Biasanya, busana yang baru ditampilkan dalam pertunjukan membutuhkan waktu untuk disesuaikan dengan pemakainya. Ukuran, bentuk, panjang rok, hingga posisi aksesori harus diperiksa agar dapat digunakan dengan aman. Dalam kasus Zendaya, seluruh proses itu berlangsung dalam waktu sangat terbatas.

Law Roach datang ke Paris untuk menyaksikan pertunjukan dan mengambil langsung busana tersebut setelah model menyelesaikan penampilan di panggung. Ia kemudian membawa gaun itu menuju London menggunakan pesawat pribadi yang telah menunggu.

Proses cepat tersebut menunjukkan besarnya koordinasi antara penata gaya, rumah mode, tim penjahit, pengelola transportasi, serta staf yang mempersiapkan Zendaya sebelum acara dimulai. Gaun dengan struktur rumit tidak dapat dimasukkan ke dalam koper biasa karena berisiko merusak bagian korset, rumbai, dan sistem pencahayaan di dalam rok.

“Kecepatan pemindahan gaun dari panggung Paris menuju karpet merah London memperlihatkan bahwa penampilan selebritas besar dibangun melalui persiapan teknis yang sangat terukur.”

Korset Putih Dibentuk Seperti Patung Marmer

Bagian paling mencolok dari gaun Zendaya adalah korset putih yang terlihat seperti pahatan marmer. Schiaparelli membuat bagian tersebut dari silikon berlapis efek porselen putih sehingga menghasilkan permukaan keras, berkilau, dan menyerupai patung klasik.

Korset itu memperlihatkan detail anatomi tubuh secara tegas. Bentuk tulang rusuk, perut, pinggang, serta pusar dibuat menonjol seolah busana tersebut dicetak langsung mengikuti tubuh pemakainya. Dari bagian depan, tampilannya terlihat kokoh, sedangkan bagian belakang menggunakan tali seperti korset tradisional.

Schiaparelli memang dikenal sering menggunakan bagian tubuh manusia sebagai sumber rancangan. Mata, telinga, hidung, bibir, tangan, dan bentuk anatomi menjadi unsur yang berulang dalam berbagai koleksi rumah mode tersebut. Pendekatan ini berasal dari warisan Elsa Schiaparelli yang memiliki hubungan kuat dengan seni surealisme.

Pada gaun Zendaya, bentuk tubuh tidak disembunyikan di balik kain, melainkan dijadikan struktur utama busana. Korset bekerja seperti pelindung dada sekaligus pahatan yang melekat pada tubuh.

Pilihan warna putih juga memperkuat kesan patung Yunani kuno. Banyak patung klasik yang dikenal masyarakat saat ini hadir dalam warna batu putih, meskipun sebagian karya pada masa aslinya pernah memiliki lapisan warna. Tampilan tersebut langsung menghubungkan busana Zendaya dengan dunia dewa dan pahlawan dalam The Odyssey.

Rumbai Bergradasi Memantulkan Cahaya

Di bawah korset, gaun dilanjutkan dengan rok panjang yang dipenuhi rumbai berkilau. Rumbai tersebut dibuat menggunakan material seperti cermin dan manik manik yang bergerak mengikuti setiap langkah Zendaya.

Warna rok berubah secara bertahap dari putih menuju perak. Teknik gradasi itu menciptakan peralihan lembut dari bagian atas yang menyerupai porselen menuju bagian bawah yang lebih cair dan bercahaya.

Rumah mode Schiaparelli menjelaskan bahwa rumbai tersebut dibordir dengan gradasi putih menuju efek cermin. Bagian rok berwarna perak dan emas juga diterangi dari dalam sehingga busana dapat menghasilkan cahaya sendiri.

Sistem pencahayaan menjadi bagian penting karena rok tidak hanya mengandalkan lampu kamera atau sorotan karpet merah. Ketika Zendaya bergerak, cahaya dari dalam rok bertemu dengan pantulan manik manik dan menghasilkan perubahan kilau.

Detail tersebut membuat gaun terlihat berbeda saat diam dan saat berjalan. Pada foto, permukaannya terlihat seperti rangkaian pecahan es. Dalam rekaman video, rumbai bergerak seperti aliran air atau kilatan logam.

Rok panjang itu menyentuh lantai dan menutupi sebagian besar sepatu Zendaya. Ia mengenakan sepatu berujung runcing dengan warna senada agar perhatian tetap tertuju pada struktur gaun.

Law Roach Mengambil Gaun Langsung dari Paris

Law Roach menjadi tokoh penting di balik hadirnya gaun Schiaparelli tersebut di London. Penata gaya yang telah lama bekerja bersama Zendaya itu sengaja terbang ke Paris untuk menghadiri pertunjukan.

Dalam sebuah video yang beredar setelah pertunjukan, Law Roach menyampaikan bahwa pesawat pribadi telah menunggunya. Ia harus segera membawa gaun tersebut ke London agar Zendaya dapat memakainya pada malam yang sama.

Setelah model turun dari panggung, busana dilepas dan dipersiapkan untuk perjalanan. Law Roach kemudian meninggalkan Paris bersama gaun tersebut dan kembali ke London menjelang pemutaran perdana.

Perjalanan antara Paris dan London memang relatif singkat melalui jalur udara. Namun, pengiriman busana couture tetap memiliki banyak risiko. Korset silikon dapat mengalami goresan, rumbai dapat saling tersangkut, sedangkan komponen pencahayaan perlu dijaga agar tidak rusak selama perjalanan.

Tim juga harus memastikan gaun dapat segera dikenakan setelah tiba. Waktu untuk melakukan penyesuaian hampir tidak tersedia, sehingga ukuran dan struktur busana harus telah diperhitungkan sebelumnya.

Hubungan panjang antara Zendaya dan Law Roach menjadi salah satu alasan proses tersebut dapat terlaksana. Keduanya telah bekerja sama dalam berbagai pemutaran film, festival, acara penghargaan, dan pertunjukan mode.

Penampilan Dibuat Selaras dengan Karakter Athena

Zendaya memerankan Athena dalam film The Odyssey. Karakter tersebut dikenal sebagai dewi kebijaksanaan, strategi perang, serta pelindung para pahlawan dalam mitologi Yunani.

Busana Schiaparelli dipilih untuk memperkuat hubungan Zendaya dengan karakter tersebut. Korset yang menyerupai pelindung tubuh menghadirkan unsur seorang pejuang, sedangkan warna putih dan perak mengingatkan pada patung dewi klasik.

Rambut Zendaya turut diatur untuk mendukung penampilan tersebut. Bagian atas rambut dibuat dalam bentuk kepang yang menyerupai struktur helm. Sementara itu, rambut panjang bergelombang dibiarkan jatuh hingga mendekati pinggang.

Riasan mata menggunakan warna putih keperakan, terutama di sudut dalam mata. Warna itu menyatu dengan kilau gaun sekaligus memberi kesan dingin. Pipi diberi rona merah muda lembut, sedangkan bibir menggunakan lapisan berkilau.

Vogue menyebut tata rambut berkepang tersebut sebagai penafsiran terhadap helm Athena. Seluruh unsur kecantikan dirancang sebagai bagian dari tema dewi modern yang dibawa Zendaya ke karpet merah.

Konsep pakaian yang mengambil unsur dari karakter film sering dikenal sebagai method dressing. Zendaya dan Law Roach telah beberapa kali menggunakan pendekatan tersebut untuk tur promosi film.

Ketika mempromosikan Dune, Zendaya tampil dengan busana bernuansa gurun dan teknologi. Pada rangkaian promosi Challengers, ia mengenakan pakaian yang terinspirasi dari tenis. Untuk The Odyssey, mitologi Yunani menjadi sumber utama rancangan penampilannya.

Perhiasan Chopard Tambahkan Kilau pada Korset

Gaun Schiaparelli tersebut dipadukan dengan perhiasan dari Chopard. Zendaya mengenakan kalung berlian bertingkat yang diletakkan di atas bagian dada korset.

Kalung utama memiliki berlian seberat 12,37 karat. Perhiasan itu juga dilengkapi rangkaian berlian tambahan dengan total bobot 76,11 karat yang dipasang pada emas putih 18 karat. Ia turut mengenakan anting berlian berukuran kecil.

Bentuk kalung terdiri dari beberapa lapisan yang mengikuti garis leher gaun. Rangkaian berlian tersebut tidak menutupi detail pahatan pada korset, tetapi mengisi ruang di antara leher dan bagian dada.

Pemilihan emas putih membuat warna logam menyatu dengan silikon putih dan rumbai perak. Tidak terdapat warna perhiasan yang terlalu berbeda sehingga keseluruhan tampilan tetap terasa utuh.

Zendaya juga mengenakan cincin pernikahannya. Aksesori tersebut tampak ketika ia mengangkat tangan dan berpose di hadapan fotografer.

Penggunaan perhiasan dalam jumlah besar memerlukan perhitungan agar tidak mengganggu struktur busana. Korset yang sudah memiliki detail kuat berisiko terlihat terlalu padat apabila dipadukan dengan kalung berukuran besar tanpa penataan yang tepat.

Koleksi The Call of the Void Karya Daniel Roseberry

Gaun Zendaya berasal dari koleksi bertajuk The Call of the Void. Daniel Roseberry menggunakan koleksi Haute Couture Fall Winter 2026/2027 untuk mengeksplorasi proses penciptaan yang tidak selalu dapat dikendalikan melalui rumus.

Dalam catatan koleksinya, Roseberry menjelaskan bahwa ia sempat mencoba mengulangi pola kerja dari musim sebelumnya. Ia melakukan perjalanan, mencari bangunan ikonik, lalu berharap inspirasi akan datang dengan cara yang sama.

Namun, cara tersebut tidak menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Roseberry kemudian memilih melepaskan keinginan untuk mengendalikan seluruh proses dan kembali mengikuti intuisi saat membuat koleksi.

Koleksi itu menghadirkan banyak bentuk pahatan, struktur tubuh, material tidak biasa, dan busana dengan siluet ekstrem. Gaun yang dikenakan Zendaya ditempatkan sebagai penutup karena merangkum beberapa ciri utama koleksi.

Bagian korset menunjukkan ketertarikan Schiaparelli pada anatomi. Rumbai bercermin menghadirkan gerak, sedangkan cahaya dari dalam rok memberi unsur teknologi pada teknik couture tradisional.

Schiaparelli juga tetap mempertahankan hubungan antara busana dan seni. Bagi rumah mode ini, pakaian tidak hanya berfungsi menutupi tubuh, tetapi dapat menjadi objek yang menipu penglihatan, mengubah bentuk tubuh, dan menghadirkan percakapan visual.

Schiaparelli Memiliki Hubungan Panjang dengan Seni Surealisme

Maison Schiaparelli didirikan oleh Elsa Schiaparelli, perancang asal Italia yang membangun kariernya di Paris. Ia dikenal berani menggabungkan mode dengan seni, humor, serta bentuk yang tidak biasa.

Elsa pernah bekerja dengan seniman seperti Salvador Dalí, Jean Cocteau, Man Ray, dan Alberto Giacometti. Kolaborasi tersebut menghasilkan rancangan yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah mode abad ke 20.

Salah satu ciri Schiaparelli adalah penggunaan benda sehari hari dalam bentuk yang mengejutkan. Rumah mode ini juga sering menampilkan motif tubuh, wajah, tulang, dan anggota badan sebagai hiasan.

Daniel Roseberry melanjutkan pendekatan tersebut sejak memimpin arah kreatif Schiaparelli. Ia memperkenalkan berbagai gaun dengan struktur keras, aksesori berbentuk organ tubuh, serta perhiasan berukuran besar.

Gaun Zendaya menunjukkan bagaimana warisan tersebut diterapkan dalam busana modern. Korset menyerupai tubuh manusia, tetapi dibuat dari material yang terlihat seperti porselen. Roknya terlihat lembut dari jauh, meskipun tersusun dari rumbai bercermin dan sistem cahaya.

“Penampilan Zendaya mempertemukan warisan seni Schiaparelli dengan kebutuhan karpet merah modern tanpa menghilangkan karakter kuat dari keduanya.”

Zendaya Mengganti Busana Setelah Memasuki Lokasi Acara

Gaun Schiaparelli digunakan Zendaya untuk sesi karpet merah utama. Setelah memasuki lokasi pemutaran, ia mengganti busana dengan rancangan Valentino dari koleksi Fall 2026.

Busana kedua masih mengikuti unsur Yunani. Zendaya mengenakan atasan berwarna hijau lembut yang bentuknya menyerupai rangkaian daun laurel. Bagian bawah terdiri dari kain abu abu dengan lipatan seperti tunik klasik.

Pada penampilan kedua, kalung besar dilepas dan digantikan anting berlian dengan total bobot hampir 27 karat. Perubahan itu menunjukkan bahwa satu acara dapat membutuhkan lebih dari satu busana, terutama ketika pakaian pertama memiliki struktur yang berat dan membatasi gerak.

Gaun Schiaparelli sangat efektif untuk sesi foto, tetapi korset keras dan rok bercahaya mungkin tidak nyaman digunakan selama pemutaran film berlangsung. Busana Valentino memberi ruang gerak lebih besar ketika Zendaya berada di dalam gedung.

Penggantian pakaian juga memperluas rangkaian penampilan yang telah dipersiapkan untuk promosi The Odyssey. Kedua busana tetap mengambil unsur mitologi Yunani, tetapi menampilkan pendekatan berbeda.

Schiaparelli memberi kesan patung dan pelindung tubuh, sedangkan Valentino menghadirkan kain berlipit yang lebih lembut. Keduanya membantu membangun identitas visual Zendaya selama acara berlangsung.

The Odyssey Menjadi Salah Satu Film Besar Tahun Ini

The Odyssey disutradarai Christopher Nolan dan diadaptasi dari karya epik Yunani yang dikaitkan dengan Homer. Ceritanya mengikuti perjalanan Odysseus saat berusaha kembali ke rumah setelah Perang Troya.

Zendaya tampil sebagai Athena, sedangkan Tom Holland memerankan Telemachus, putra Odysseus. Film tersebut juga melibatkan sejumlah aktor besar lain dalam jajaran pemerannya.

Pemutaran perdana dunia di London menjadi bagian awal dari promosi menjelang penayangan film di bioskop pada 17 Juli 2026.

Kehadiran Zendaya di karpet merah bukan hanya menarik perhatian terhadap busana, tetapi juga membantu memperkuat tema film. Gaun yang menyerupai patung dewi memberi gambaran visual mengenai karakter yang ia mainkan tanpa perlu menjelaskan jalan cerita.

Strategi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara industri film dan rumah mode. Acara pemutaran perdana menjadi panggung penting bagi desainer, sementara busana yang kuat membantu film memperoleh perhatian lebih luas di media dan jejaring sosial.

Bagi Schiaparelli, penampilan Zendaya memperlihatkan koleksi terbaru hanya beberapa jam setelah debut di Paris. Bagi tim The Odyssey, busana tersebut menghasilkan gambar karpet merah yang langsung terhubung dengan dunia mitologi Yunani yang menjadi pusat film.

Related posts