Shinjuku Gyoen, Taman Teduh Tokyo di Tengah Kepungan Gedung Pencakar Langit

Shinjuku Gyoen, Taman Teduh Tokyo di Tengah Kepungan Gedung Pencakar Langit
Shinjuku Gyoen, Taman Teduh Tokyo di Tengah Kepungan Gedung Pencakar Langit

Shinjuku Gyoen dikenal sebagai salah satu kawasan tersibuk di Tokyo. Ribuan orang keluar masuk stasiun, papan elektronik memenuhi dinding gedung, pusat perbelanjaan berdiri berdekatan, dan kawasan hiburan terus ramai hingga malam. Namun, sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari keramaian tersebut terdapat Shinjuku Gyoen National Garden, sebuah taman luas yang menawarkan suasana jauh lebih tenang.

Memasuki kawasan ini terasa seperti berpindah ke bagian Tokyo yang sama sekali berbeda. Deru kendaraan perlahan menghilang, udara terasa lebih sejuk, sementara jalur setapak membawa pengunjung menuju hamparan rumput, kolam, pepohonan besar, kebun mawar, rumah kaca, dan taman bergaya Jepang. Gedung tinggi Shinjuku masih dapat terlihat dari kejauhan, tetapi tidak lagi menjadi pusat perhatian.

Read More

Shinjuku Gyoen memiliki luas sekitar 145 hektare dengan garis keliling mencapai 3,5 kilometer. Di dalamnya tumbuh sekitar 10.000 pohon, termasuk pohon tulip, sycamore, cedar Himalaya, cemara rawa, dan hampir 900 pohon sakura. Besarnya kawasan membuat taman ini lebih menyerupai kumpulan beberapa lanskap yang terhubung daripada sebuah taman kota biasa.

Perjalanan Panjang dari Lahan Keluarga Naito hingga Taman Nasional

Keindahan Shinjuku Gyoen tidak terbentuk dalam satu periode. Kawasan ini mengalami perubahan fungsi yang panjang, mulai dari tanah milik keluarga bangsawan, lokasi percobaan pertanian, kebun botani kekaisaran, hingga taman nasional yang dapat dimasuki masyarakat umum.

Riwayatnya dapat ditelusuri sampai 1590 ketika pemerintahan Tokugawa memberikan sekitar 70 hektare tanah kepada keluarga Naito. Keluarga tersebut merupakan penguasa feodal yang memiliki kedudukan penting pada masa Edo. Sebagian jejak lahannya masih dapat ditemukan melalui area Kolam Tamamo yang menjadi bagian dari taman keluarga Naito.

Setelah pemerintahan feodal berakhir, kawasan ini digunakan sebagai lokasi percobaan pertanian pada 1872. Rumah kaca pertama dibangun pada 1875, kemudian tempat tersebut berganti nama menjadi Kebun Botani Kekaisaran pada 1879. Fungsinya tidak hanya sebagai taman, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran tanaman, hortikultura, dan teknik budidaya dari luar Jepang.

Perubahan besar terjadi pada awal abad ke 20. Fukuba Hayato, kepala Kebun Botani Kekaisaran Shinjuku, meminta ahli hortikultura Prancis bernama Henri Martinet untuk menyusun rancangan baru. Renovasi dilakukan selama lima tahun, sejak 1902 sampai 1906. Tata ruang yang selesai pada 1906 kemudian menjadi dasar bentuk Shinjuku Gyoen yang masih terlihat sekarang.

Saat menjadi taman kekaisaran, lokasi ini dipakai untuk berbagai acara keluarga kerajaan. Acara melihat bunga sakura kekaisaran dipindahkan ke Shinjuku Gyoen pada 1917, sedangkan pameran bunga krisan mulai diselenggarakan di kawasan tersebut pada 1929.

Serangan udara pada 1945 menghancurkan sebagian besar fasilitas dan taman. Bangunan yang tersisa kemudian dipertahankan, sementara area yang rusak dibangun kembali berdasarkan rancangan 1906. Pada 21 Mei 1949, Shinjuku Gyoen resmi dibuka untuk masyarakat sebagai taman nasional.

“Keistimewaan Shinjuku Gyoen terletak pada kemampuannya menyimpan perjalanan panjang Jepang tanpa mengubah taman menjadi ruang yang terasa seperti museum tertutup.”

Tiga Gaya Taman Bertemu dalam Satu Kawasan

Bagian paling menarik dari Shinjuku Gyoen adalah peralihan suasana yang terjadi ketika pengunjung berjalan dari satu area menuju area lain. Dalam satu kunjungan, seseorang dapat melewati taman bergaya Eropa, lapangan rumput terbuka, kolam bernuansa Jepang, dan area peninggalan keluarga feodal.

Perbedaan tersebut merupakan hasil rancangan yang sejak awal menggabungkan unsur Timur dan Barat. Pengelola menyebut Shinjuku Gyoen sebagai salah satu contoh taman modern bergaya Eropa terbaik di Jepang karena mampu menyatukan taman formal, taman lanskap, dan taman tradisional Jepang dalam satu tata ruang.

Taman Formal dengan Barisan Sycamore yang Simetris

Taman Formal berada di sisi timur dan memiliki bentuk paling teratur. Jalur, hamparan rumput, tanaman pembatas, serta kebun bunga disusun menggunakan pola geometris. Bentuknya berbeda dengan sebagian besar area lain yang dibuat lebih menyerupai bentang alam alami.

Di bagian tengah terdapat dua lapangan rumput yang dibatasi kebun mawar dan pagar tanaman rendah. Sekitar 500 rumpun mawar dari 100 jenis ditanam di kawasan ini. Bunga biasanya menjadi perhatian utama pada musim semi dan musim gugur ketika sejumlah varietas bermekaran secara bersamaan.

Sekitar 160 pohon sycamore disusun dalam delapan barisan lurus pada kedua sisi taman. Ketika musim panas, tajuknya memberikan keteduhan bagi pengunjung yang duduk di bangku. Memasuki musim gugur, daunnya berubah menjadi keemasan dan memenuhi jalur dengan guguran berwarna kuning kecokelatan.

Susunan tersebut membuat Taman Formal menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali. Pemandangannya memberikan kesan rapi, luas, dan seimbang tanpa kehilangan hubungan dengan pepohonan besar di sekitarnya.

Taman Lanskap dengan Hamparan Rumput Terbuka

Berjalan menuju bagian tengah, bentuk taman berubah menjadi lebih lapang. Taman Lanskap memiliki halaman rumput luas yang dikelilingi pohon besar. Tidak banyak pagar tanaman atau pola geometris di area ini sehingga pengunjung dapat melihat bentangan hijau tanpa penghalang.

Pohon tulip, cedar Himalaya, dan sejumlah pohon berusia tua tumbuh terpisah di atas hamparan rumput. Ukurannya yang besar menciptakan titik teduh alami sekaligus memperkuat kesan bahwa kawasan tersebut berada jauh dari pusat metropolitan.

Banyak pohon sakura tumbuh mengelilingi Taman Lanskap. Pada musim bunga, tepian lapangan berubah menjadi kumpulan warna putih dan merah muda. Pengunjung biasanya duduk di atas alas, menikmati bekal, mengambil foto, atau berjalan mengikuti jalur di bawah ranting yang dipenuhi bunga.

Salah satu unsur penting di kawasan ini adalah Vista Line, yaitu garis pandang panjang dari Taman Formal menuju lapangan terbuka hingga mendekati Gerbang Shinjuku. Susunannya dibuat agar tidak terhalang bangunan atau tanaman tinggi sehingga kedalaman taman dapat terlihat secara utuh.

Taman Tradisional Jepang di Sekitar Kolam

Bagian barat menghadirkan suasana yang lebih tenang melalui Taman Tradisional Jepang. Jalur berjalan dibuat mengikuti tepian kolam, melewati jembatan, semak yang dipangkas, batu, pepohonan, dan bangunan bersejarah.

Taman jenis ini tidak dirancang untuk dilihat dari satu titik. Pengunjung perlu berjalan perlahan karena sudut pandang terus berubah. Sebuah bangunan dapat terlihat di antara ranting, kemudian tertutup ketika jalur berbelok, sebelum muncul kembali sebagai pantulan di permukaan air.

Pada musim gugur, warna merah dan kuning dari pohon mapel terlihat mengelilingi kolam. Pantulan dedaunan, jembatan, dan bangunan menciptakan pemandangan yang berbeda dari lapangan terbuka di bagian tengah taman.

Kolam yang tenang juga menjadi habitat ikan, kura kura, serangga, dan burung. Pengunjung diperbolehkan mengamati satwa tersebut, tetapi dilarang menangkap, memegang, atau memberi makan agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Kyu Goryo Tei Membawa Jejak Arsitektur Taiwan

Di tepi kolam Taman Tradisional Jepang berdiri Kyu Goryo Tei, bangunan yang mudah dikenali melalui atap kemerahan dengan ujung melengkung ke atas. Bangunan ini sering menjadi salah satu titik foto utama karena bentuk arsitekturnya berbeda dari paviliun Jepang yang berada di area lain.

Kyu Goryo Tei dibangun pada 1927 untuk memperingati pernikahan Putra Mahkota Hirohito, yang kemudian menjadi Kaisar Showa. Pembangunannya dibiayai oleh komunitas Jepang di Taiwan setelah kunjungan Hirohito ke pulau tersebut pada 1923.

Arsitekturnya mengikuti gaya Binnan yang berkembang di Taiwan. Kayu cemara Taiwan digunakan pada sejumlah bagian langit langit dan pilar. Jendela berbentuk bulat serta ukiran pada struktur bangunan memberikan karakter tersendiri.

Dari bagian dalam, pilar membingkai pemandangan kolam dan tanaman di depannya. Pengunjung dapat melihat perubahan bentuk taman melalui celah bangunan tanpa harus memasuki ruang tertutup.

Selain Kyu Goryo Tei, Shinjuku Gyoen memiliki Kyu Gokyu Sho atau Rumah Peristirahatan Kekaisaran. Kedua bangunan tersebut termasuk sedikit bangunan yang bertahan setelah serangan udara pada Perang Dunia Kedua. Kyu Gokyu Sho kemudian ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Jepang pada 2001.

Rumah Kaca Menyimpan Sekitar Seribu Jenis Tanaman

Shinjuku Gyoen tidak hanya menampilkan tanaman luar ruangan. Di dekat Gerbang Okido terdapat rumah kaca modern dengan dinding dan atap transparan yang menyimpan koleksi tanaman tropis, subtropis, tanaman wilayah kering, serta sejumlah spesies yang terancam.

Rumah kaca memiliki ruang pamer sekitar 2.750 meter persegi dengan kurang lebih 1.000 jenis tanaman. Jalur di dalamnya dibuat berkelok dan bertingkat sehingga pengunjung dapat melihat tanaman dari berbagai ketinggian. Udara hangat serta kelembapan tinggi langsung terasa setelah memasuki bangunan.

Koleksinya mencakup tanaman dari Okinawa, Kepulauan Ogasawara, daerah tropis dataran rendah, pegunungan tropis, dan kawasan kering. Pohon kakao, pepaya, teratai tropis, pohon kayu manis Ceylon, kaktus, sikas, serta berbagai anggrek dapat ditemukan di dalamnya.

Beberapa tanaman memiliki hubungan langsung dengan kegiatan penelitian Shinjuku Gyoen. Anggrek Coelogyne Shinjuku, misalnya, merupakan varietas yang dikembangkan di tempat tersebut sebelum Perang Dunia Kedua. Terdapat pula stroberi Fukuba yang dikembangkan pada 1956.

Rumah kaca pertama sebenarnya telah berdiri sejak 1875 ketika wilayah itu masih digunakan sebagai stasiun percobaan pertanian. Bangunannya hancur pada 1945, lalu dibangun kembali pada 1958. Fasilitas terbaru dibuka pada 2012 dengan rancangan yang lebih ramah lingkungan dan fungsi konservasi yang lebih kuat.

Hampir 900 Pohon Sakura Memperpanjang Musim Hanami

Nama Shinjuku Gyoen sangat lekat dengan musim sakura. Taman ini memiliki hampir 900 pohon dengan sekitar 70 varietas sehingga masa berbunga tidak hanya terpusat dalam beberapa hari. Varietas yang berbeda dapat mulai berbunga lebih awal atau lebih lambat.

Somei Yoshino biasanya menjadi pusat perhatian pada akhir Maret hingga awal April. Bunganya memenuhi tepian lapangan dan jalur, menciptakan kanopi berwarna putih kemerahan. Setelah bunga Somei Yoshino mulai gugur, varietas Yaezakura yang memiliki kelopak lebih banyak biasanya memasuki periode terbaiknya.

Perbedaan waktu berbunga memberikan peluang lebih luas bagi pengunjung. Seseorang yang datang setelah puncak sakura Tokyo masih mungkin menemukan pohon yang sedang mekar di bagian lain taman.

Pada periode 25 Maret sampai 24 April, taman dibuka setiap hari termasuk Senin. Pengelola mengingatkan bahwa reservasi awal dapat diberlakukan pada akhir pekan, hari libur, dan tanggal yang diperkirakan sangat ramai. Pengunjung perlu memeriksa pengumuman resmi sebelum datang.

Minuman beralkohol dilarang dibawa masuk, berbeda dari beberapa taman kota lain yang mengizinkan kegiatan hanami dengan minuman. Bola, pengeras suara, drone, hewan peliharaan, kompor portabel, dan peralatan yang dapat mengganggu pengunjung juga tidak diperbolehkan.

“Shinjuku Gyoen menawarkan hanami yang lebih tertata karena perhatian pengunjung diarahkan pada bunga, ruang hijau, dan kegiatan berjalan santai.”

Warna Taman Terus Berganti Sepanjang Tahun

Sakura memang menjadi daya tarik terbesar, tetapi Shinjuku Gyoen tetap menarik di luar musim semi. Koleksi pohon dan bunga yang beragam membuat perubahan musim terlihat jelas dari bulan ke bulan.

Pada awal musim semi, bunga plum dan magnolia mulai muncul sebelum sakura mencapai puncaknya. Setelah sakura gugur, azalea, dogwood, mawar, dan bunga pohon tulip mulai memberi warna di sejumlah area.

Musim panas membawa daun hijau yang lebih lebat. Barisan sycamore memberikan keteduhan, sementara halaman rumput menjadi lebih terang di bawah matahari. Jam operasional juga diperpanjang pada periode tertentu sehingga pengunjung dapat berjalan menjelang sore.

Musim gugur menghadirkan warna emas dari ginkgo dan sycamore serta warna merah dari mapel. Salah satu agenda penting pada periode ini adalah Pameran Bunga Krisan yang diselenggarakan setiap 1 sampai 15 November di Taman Tradisional Jepang.

Selama pameran, bangunan pamer sementara bernama uwaya didirikan di sepanjang jalur. Bunga krisan ditampilkan menggunakan gaya pembentukan yang berbeda, termasuk susunan menyerupai air terjun, bentuk klasik dari beberapa daerah Jepang, dan tanaman berukuran besar dengan banyak bunga.

Musim dingin memperlihatkan bentuk cabang dan susunan taman dengan lebih jelas. Ketika udara terlalu dingin, rumah kaca menjadi tempat yang nyaman untuk melanjutkan kunjungan sambil melihat tanaman tropis dalam ruangan.

Jam Buka, Harga Tiket, dan Pilihan Gerbang Masuk

Shinjuku Gyoen memiliki tiga pintu masuk utama, yaitu Gerbang Shinjuku, Gerbang Okido, dan Gerbang Sendagaya. Pemilihan gerbang dapat disesuaikan dengan stasiun kedatangan serta bagian taman yang hendak dikunjungi lebih dahulu.

Gerbang Shinjuku paling sesuai bagi pengunjung yang berjalan dari Stasiun Shinjuku atau Stasiun Shinjuku Sanchome. Jarak dari pintu tenggara Stasiun Shinjuku sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Dari Stasiun Shinjuku Gyoenmae, perjalanan menuju gerbang tersebut dapat ditempuh sekitar lima menit.

Gerbang Okido berada dekat rumah kaca dan area Kolam Tamamo. Pintu ini dapat dicapai sekitar lima menit dari Stasiun Shinjuku Gyoenmae. Gerbang Sendagaya lebih dekat dengan Stasiun Sendagaya dan Stasiun Kokuritsu Kyogijo, masing masing berjarak sekitar lima menit berjalan kaki.

Harga tiket dewasa tercatat 500 yen. Pengunjung berusia 65 tahun ke atas dan pelajar berusia 16 tahun ke atas dikenai biaya 250 yen, sedangkan anak berusia 15 tahun ke bawah dapat masuk tanpa biaya. Pembayaran menggunakan kartu transportasi IC diterima di pintu masuk.

Jam buka dari 15 Maret sampai 30 September adalah pukul 09.00 sampai 18.00, kecuali periode 11 Juni sampai 31 Juli ketika taman buka hingga pukul 19.00. Dari 1 Oktober sampai 14 Maret, taman beroperasi pukul 09.00 sampai 16.30. Penerimaan pengunjung terakhir dilakukan 30 menit sebelum tutup.

Taman biasanya tutup setiap Senin. Apabila Senin bertepatan dengan hari libur nasional, penutupan dipindahkan ke hari kerja berikutnya. Shinjuku Gyoen juga tutup pada 29 Desember sampai 3 Januari, kecuali terdapat pengumuman khusus dari pengelola.

Menyusun Rute Jalan Kaki agar Setiap Sudut Tidak Terlewat

Kunjungan selama dua sampai tiga jam sudah cukup untuk melihat bagian utama, meski pengunjung yang ingin menikmati rumah kaca, bangunan bersejarah, serta taman secara perlahan dapat menyediakan waktu setengah hari.

Pengunjung yang masuk dari Gerbang Shinjuku dapat berjalan menuju Taman Lanskap terlebih dahulu. Dari lapangan utama, perjalanan dilanjutkan ke Taman Formal untuk melihat kebun mawar dan barisan sycamore. Rute kemudian bergerak menuju rumah kaca di dekat Gerbang Okido.

Setelah keluar dari rumah kaca, pengunjung dapat melewati Kolam Tamamo sebelum memasuki Taman Tradisional Jepang. Jalur di tepi air membawa pengunjung menuju Kyu Goryo Tei, rumah teh, jembatan, dan beberapa titik pandang yang menghadap kolam.

Perjalanan dapat diteruskan menuju Mother and Child Woods, sebuah area yang dikembangkan untuk pendidikan alam sejak 1985. Vegetasinya lebih rapat dibandingkan lapangan utama dan menjadi tempat pengamatan burung, serangga, serta perubahan tanaman liar.

Bangku tersedia di sejumlah area, sedangkan halaman rumput dapat digunakan untuk duduk selama tidak menghalangi jalur atau menempati satu tempat terlalu lama. Membawa alas duduk, air minum, dan makanan ringan akan membantu, tetapi seluruh sampah perlu dibuang pada tempat yang ditentukan atau dibawa kembali.

Pengunjung yang menggunakan kursi roda dapat memilih jalur bebas hambatan yang telah dipetakan dari stasiun terdekat. Kursi roda juga tersedia tanpa biaya di Gerbang Shinjuku, Gerbang Okido, Gerbang Sendagaya, dan pusat pelayanan. Beberapa jalur di Taman Formal serta Taman Tradisional Jepang menggunakan permukaan kerikil sehingga perlu dilalui dengan lebih hati hati.

Related posts